Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Penerbangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Penerbangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Februari 2014

Cara Pesawat Terbang Menghindari Petir

Musim hujan sudah datang, gelegar petir di angkasa bisa membuat suasana mencekam. Dan seperti banjir bandang, petir juga bisa meminta korban jiwa.

Petir merupakan salah satu fenomena alam yang paling kuat dan menghancurkan. Kekuatan petir yang pernah tercatat yakni mulai dari ribuan ampere sampai 200.000 ampere. Angka ini setara dengan kekuatan yang dibutuhkan untuk menyalakan 500 ribu lampu bohlam 100 watt.

Bagaimana dengan petir yang dapat menyambar pesawat terbang?

Dilansir dari Lifeslittlemysteries, memang ada sejumlah pesawat jet yang telah diledakkan oleh petir, termasuk penerbangan Pan American pada tahun 1963 yang menewaskan 83 orang.

Tapi, para ilmuwan telah menemukan cara untuk menangkal kemarahan alam tersebut. Pada awal tahun 1980-an, NASA menerbangkan pesawat jet kearah badai pada ketinggian 38.000 kaki. Pesawat tersebut dihantam petir sebanyak 72 kali dalam waktu 45 menit, dan banyak hal yang dipelajari dari kejadian itu.

Menurut Profesor Manu Haddad, dari Universitas Cardiff yang baru-baru ini membuka labolatorium khusus untuk melindungi pesawat dari petir, mengatakan bahwa pesawat harus sesegera mungkin mendarat saat terkena serangan petir. "Hal itu dilakukan sebagai pencegahan pada badan pesawat terhadap panas yang dihasilkan oleh petir," kata Manu Haddad, dilansir dari Guardian.

Rata-rata pesawat-pesawat komersial mendapatkan serangan petir sekali setahun, dengan beberapa perkiraan. Biasanya serangan terjadi di hidung, ujung sayap atau ekor, dan mengalir melalui permukaan pesawat yang terbuat dari alumunium, yang merupakan konduktor yang baik.

Untuk melindungi pesawat dari serangan petir, saat ini banyak pesawat terbang modern menggunakan material komposit atau campuran serat dan logam yang canggih, dan dirancang untuk membaca arus listrik pada petir.

Tujuan dari campuran serat dan logam alumunium yang dibuat para insinyur ini adalah untuk memastikan arus petir tetap berada di luar pesawat, dan tidak merusak sistem elektronik pesawat.

"Biasanya para penumpang tidak akan melihat apa-apa ketika terjadi serangan petir pada pesawat. Mereka hanya melihat kilatan cahaya dari luar pesawat," kata Manu Haddad. (adi)
© VIVA.co.id  

Persiapan Pesawat Sebelum terbang

Jauh sebelum para penumpang sampai di bandara, persiapan-persiapan sebelum terbang sudah dilakukan. Para teknisi pesawat bekerja di belakang layar untuk mengecek dan memastikan aspek keselamatan pesawat. Demikian juga dengan petugas dispatcer operasi, mereka menyiapkan dan membuat jadwal penerbangan. Pada saat tahapan pengecekan pesawat sedang dilakukan, para penumpang beserta bagasinya mulai berdatangan di bandara dan masuk ke ruang check-in dengan melawati mesin scanner terlebih dahulu. Di lain pihak, awak kabin dan pilot juga melakukan serangkaian cek dan brifing untuk memastikan segala sesuatunya sudah sesuai dengan aturan keselamatan penerbangan. Setelah segala sesuatunya siap, penumpang siap diberangkatkan. Proses boarding dilakukan, flight attendance (pramugari/a) membantu para penumpang menemukan tempat duduk atau menyimpan bagasinya sedangkan pilot melakukan pengecekan sesuai dengan checklist prosedur keselamatan penerbangan.
Berikut ini adalah tahapan-tahapan yang dilakukan sebuah pesawat sebelum mereka take-off:
  • Pemeliharaan Pesawat: Setiap hari, para teknisi pemeliharaan pesawat berlisensi (licensed Aircraft Maintenance Engineers (AMEs) melakukan serangkaian program pemeliharaan pesawat untuk memastikan aspek keselamatan yang berkelanjutan. Serangkaian pengecekan yang dilakukan antara lain, pengecekan tekanan ban, inspeksi ada tidaknya kebocoran fluida dan kerusakan struktur pesawat, maupun testing fungsi sistem dan kontrol di dalam pesawat. Apabila ada kelainan-kelainan ditemukan, AMEs melakukan langkah-langkah yang dirasa perlu untuk menjaga pesawat selalu dalam kondisi layak terbang
  • Merencanakan Penerbangan: Beberapa jam sebelum take-off, petugas dispatcer menyiapkan rencana terbang, mengkaji lengkap rute yang akan dilalui, altitude (ketinggian terbang), bahan bakar, dan kondisi cuaca selama penerbangan, yang di dalamnya termasuk informasi detail kondisi cuaca di airport tujuan. Kondisi cuaca adalah hal yang paling utama yang harus diperhatikan dalam menyiapkan rute penerbangan, oleh karena pilot ingin menghindari kondisi buruk seperti lapisan es, badai, tekanan angin, dan bahkan abu volkanik.
  • Mengamankan Pesawat: Customer service, petugas bagasi, dan petugas darat lainnya mengamankan pintu masuk pesawat, pintu palka, jembatan penghubung masuk pesawat yang akan dilalui penumpang, dan mencegah orang-orang yang tidak berkepentingan mempunyai akses masuk ke dalam kabin pesawat dan komponen kargo. Hanya petugas yang berhak untuk melakukan pengecekan dan memasukkan kargo ke dalam pesawat.
  • Persiapan Darat, Petugas darat membersihkan dan mengosongkan toilet, dan mengisi air ke dalam pesawat. Banyaknya bahan bakar yang dibutuhkan selama penerbangan dibawa melalui sebuah truk tanki bahan bakar yang kemudian diisikan ke dalam pesawat.
  • Pengecekan Penumpang, Petugas bandara melakukan pengecekan penumpang dan barang bawaannya dari item-item yang berbahaya dan dilarang untuk dibawa selama penerbangan. Petugas maskapai melakukan pencocokan indentitas yang tertera di borading pass sebelum boarding.
  • Brifing Awak Kabin, Awak kabin dan pilot melakukan brifing penuh untuk menyiapkan penerbangan terkait dengan alat dan elemen keselamatan yang ada di dalam pesawat.
  • Persiapan di dalam kabin pilot (flight deck), Ketika pilot berada dalam flight deck, mereka memasukkan rencana penerbangan ke dalam sistem komputer navigasi, melakukan pengecekan keselamatan di dalam kokpit, dan persiapan terbang. Kapten dan Penyelia penerbangan bekerja sama dalam melakukan serangkaian pengecekan untuk memastikan bahwa mereka dalam satu arahan keselamatan yang sama.
  • Pengecekan Keselamatan, Petugas kabin (pramugari/a) mengecek semua peralatan keselamatan yang ada maupun keamanan di dalam kabin pesawat sebelum penumpang boarding. Snack dan makanan diantarkan oleh petugas katering pada saat ini.
  • Pre-Boarding, awak kabin membantu para penumpang yang membawa anak-anak dan yang memerlukan bantuan khusus untuk masuk ke dalam pesawat terlebih dahulu. Jika diperlukan mereka akan melakukan brifing keselamatan kepada para penumpang ini
  • Boarding Keseluruhan, kemudian boarding semua penumpang dilakukan. Setelah penumpang memasuki pesawat, semua bagasi harus dimasukkan di dalam kabin tempat penyimpanan atau di bawah kursi masing-masing. Penumpang juga diharuskan untuk mematikan handphone dan alat elektronik yang lainnya agar tidak membahayakan keselamatan penerbangan.
  • Menutup Pintu Pesawat. Flight Attendants hanya bisa menutup pintu pesawat apabila semua bagasi penumpang sudah disimpan. Semua pesawat biasanya dikatakan layak terbang berdasarkan kondisi fisik bahwa penerbangan bisa dievakuasi dalam kurun 90 detik dengan setengah pintu tidak terhalang.
  • Demo Keselamatan, Awak kabin melakukan demo keselamatan kepada penumpang. Kartu petunjuk keselamatan juga bisa ditemukan di setiap kursi yang wajib diketahui dan diperhatikan oleh semua penumpang.
  • Ke landas Pacu, Setelah pintu kabin ditutup dan dikunci dengan sempurna, dan pilot sudah selesai melakukan semua pengecekan sebelum terbang, pesawat siap untuk meninggalkan gate/parkir. Pesawat akan didorong menuju ke tempat dimana pilot dengan aman bisa mulai menghidupkan mesin pesawat dan menuju ke landas pacu setelah mendapatkan ijin dari petugas darat.
  • Take-Off, Di ujung landas pacu, pilot melakukan persiapan akhir, kemudian memerintahkan awak kabin untuk mengambil posisi terbang (take-off position) dan kemudian menunggu ijin terbang dari petugas ATC (air traffic control). Setelah diijinkan, sesaat kemudian pesawat terbang.
- Sumber : http://tulisan-ringan.com/cerita-cerita/bagaimanakah-persiapan-pesawat-sebelum-terbang/#sthash.yweYH2jb.dpuf




Jauh sebelum para penumpang sampai di bandara, persiapan-persiapan sebelum terbang sudah dilakukan. Para teknisi pesawat bekerja di belakang layar untuk mengecek dan memastikan aspek keselamatan pesawat. Demikian juga dengan petugas dispatcer operasi, mereka menyiapkan dan membuat jadwal penerbangan. Pada saat tahapan pengecekan pesawat sedang dilakukan, para penumpang beserta bagasinya mulai berdatangan di bandara dan masuk ke ruang check-in dengan melawati mesin scanner terlebih dahulu. Di lain pihak, awak kabin dan pilot juga melakukan serangkaian cek dan brifing untuk memastikan segala sesuatunya sudah sesuai dengan aturan keselamatan penerbangan. Setelah segala sesuatunya siap, penumpang siap diberangkatkan. Proses boarding dilakukan, flight attendance (pramugari/a) membantu para penumpang menemukan tempat duduk atau menyimpan bagasinya sedangkan pilot melakukan pengecekan sesuai dengan checklist prosedur keselamatan penerbangan.
Berikut ini adalah tahapan-tahapan yang dilakukan sebuah pesawat sebelum mereka take-off:
  • Pemeliharaan Pesawat: Setiap hari, para teknisi pemeliharaan pesawat berlisensi (licensed Aircraft Maintenance Engineers (AMEs) melakukan serangkaian program pemeliharaan pesawat untuk memastikan aspek keselamatan yang berkelanjutan. Serangkaian pengecekan yang dilakukan antara lain, pengecekan tekanan ban, inspeksi ada tidaknya kebocoran fluida dan kerusakan struktur pesawat, maupun testing fungsi sistem dan kontrol di dalam pesawat. Apabila ada kelainan-kelainan ditemukan, AMEs melakukan langkah-langkah yang dirasa perlu untuk menjaga pesawat selalu dalam kondisi layak terbang
  • Merencanakan Penerbangan: Beberapa jam sebelum take-off, petugas dispatcer menyiapkan rencana terbang, mengkaji lengkap rute yang akan dilalui, altitude (ketinggian terbang), bahan bakar, dan kondisi cuaca selama penerbangan, yang di dalamnya termasuk informasi detail kondisi cuaca di airport tujuan. Kondisi cuaca adalah hal yang paling utama yang harus diperhatikan dalam menyiapkan rute penerbangan, oleh karena pilot ingin menghindari kondisi buruk seperti lapisan es, badai, tekanan angin, dan bahkan abu volkanik.
  • Mengamankan Pesawat: Customer service, petugas bagasi, dan petugas darat lainnya mengamankan pintu masuk pesawat, pintu palka, jembatan penghubung masuk pesawat yang akan dilalui penumpang, dan mencegah orang-orang yang tidak berkepentingan mempunyai akses masuk ke dalam kabin pesawat dan komponen kargo. Hanya petugas yang berhak untuk melakukan pengecekan dan memasukkan kargo ke dalam pesawat.
  • Persiapan Darat, Petugas darat membersihkan dan mengosongkan toilet, dan mengisi air ke dalam pesawat. Banyaknya bahan bakar yang dibutuhkan selama penerbangan dibawa melalui sebuah truk tanki bahan bakar yang kemudian diisikan ke dalam pesawat.
  • Pengecekan Penumpang, Petugas bandara melakukan pengecekan penumpang dan barang bawaannya dari item-item yang berbahaya dan dilarang untuk dibawa selama penerbangan. Petugas maskapai melakukan pencocokan indentitas yang tertera di borading pass sebelum boarding.
  • Brifing Awak Kabin, Awak kabin dan pilot melakukan brifing penuh untuk menyiapkan penerbangan terkait dengan alat dan elemen keselamatan yang ada di dalam pesawat.
  • Persiapan di dalam kabin pilot (flight deck), Ketika pilot berada dalam flight deck, mereka memasukkan rencana penerbangan ke dalam sistem komputer navigasi, melakukan pengecekan keselamatan di dalam kokpit, dan persiapan terbang. Kapten dan Penyelia penerbangan bekerja sama dalam melakukan serangkaian pengecekan untuk memastikan bahwa mereka dalam satu arahan keselamatan yang sama.
  • Pengecekan Keselamatan, Petugas kabin (pramugari/a) mengecek semua peralatan keselamatan yang ada maupun keamanan di dalam kabin pesawat sebelum penumpang boarding. Snack dan makanan diantarkan oleh petugas katering pada saat ini.
  • Pre-Boarding, awak kabin membantu para penumpang yang membawa anak-anak dan yang memerlukan bantuan khusus untuk masuk ke dalam pesawat terlebih dahulu. Jika diperlukan mereka akan melakukan brifing keselamatan kepada para penumpang ini
  • Boarding Keseluruhan, kemudian boarding semua penumpang dilakukan. Setelah penumpang memasuki pesawat, semua bagasi harus dimasukkan di dalam kabin tempat penyimpanan atau di bawah kursi masing-masing. Penumpang juga diharuskan untuk mematikan handphone dan alat elektronik yang lainnya agar tidak membahayakan keselamatan penerbangan.
  • Menutup Pintu Pesawat. Flight Attendants hanya bisa menutup pintu pesawat apabila semua bagasi penumpang sudah disimpan. Semua pesawat biasanya dikatakan layak terbang berdasarkan kondisi fisik bahwa penerbangan bisa dievakuasi dalam kurun 90 detik dengan setengah pintu tidak terhalang.
  • Demo Keselamatan, Awak kabin melakukan demo keselamatan kepada penumpang. Kartu petunjuk keselamatan juga bisa ditemukan di setiap kursi yang wajib diketahui dan diperhatikan oleh semua penumpang.
  • Ke landas Pacu, Setelah pintu kabin ditutup dan dikunci dengan sempurna, dan pilot sudah selesai melakukan semua pengecekan sebelum terbang, pesawat siap untuk meninggalkan gate/parkir. Pesawat akan didorong menuju ke tempat dimana pilot dengan aman bisa mulai menghidupkan mesin pesawat dan menuju ke landas pacu setelah mendapatkan ijin dari petugas darat.
  • Take-Off, Di ujung landas pacu, pilot melakukan persiapan akhir, kemudian memerintahkan awak kabin untuk mengambil posisi terbang (take-off position) dan kemudian menunggu ijin terbang dari petugas ATC (air traffic control). Setelah diijinkan, sesaat kemudian pesawat terbang.
- Sumber : http://tulisan-ringan.com/cerita-cerita/bagaimanakah-persiapan-pesawat-sebelum-terbang/#sthash.yweYH2jb.dpuf

Cara Pesawat Mengurangi kecepatan saat mendarat

Sudah pada pernah naik pesawat terbang kan? Maskapai penerbangan merupakan salah satu transportasi yang populer di indonesia. Tapi pernah gak Anda bertanya dalam diri sendiri, di saat pesawat landing (mendarat) bagaimana dengan kecepatan setinggi itu bisa mengurangi kecepatan dalam waktu beberapa detik saja?
Selain tuntutan dari landasan pacu yang panjangnya cuma beberapa kilometer saja, kalo gak ngerem nanti keterusan lagi di jalan raya.
Ada beberapa proses pengereman/pengurangan laju pesawat yang mungkin pernah anda perhatikan ketika duduk di dekat jendela :
1.Flap

Flap terdapat pada bagian belakang sayap. Flap tidak hanya digunakan pada saat pesawat lepas landas. Pada saat landing, flap juga berfungsi sebagai "Airbrake" atau rem angin dalam laju pesawat setelah landing.
Flap terdiri dari beberapa level yaitu, flap 1 sampai 40 (pada boeing 737). Umumnya pada saat landing flap dikeluarkan secara penuh (flap 40 pada boeing 737) tidak seperti pada saat lepas landas (yang hanya memakai flap 5)
2.Air Brake Spoiler

Nah, yang satu ini dikhususkan sebagai airbrake/rem angin pada pesawat. Fungsinya sebagai penghambat laju angin dan memberikan gesekan pada sayap pesawat sehingga gaya laju angin pada pesawat terhambat oleh spoiler pada pesawat itu sendiri. Letak airbrake spoiler ini di atas flap pada sayap pesawat.
3.Reserve Trust





Bisa dikatakan dari semua faktor pengereman, inilah yang paling penting. "Dorongan balik" jet pada kedua sayap pesawat mendorong berlawanan dengan arah laju pesawat. Apakah putaran mesin jet yang berubah arah?
Tentu tidak mungkin jet yang sedang memutar cepat dapat berganti arah berlawanan. Lalu bagaimana jet yang menyemburkan dorongan ke belakang pesawat lalu seketika dapat berubah menjadi semburan ke depan yang berlawan dengan arah laju pesawat?
Disinilah menariknya, pada kedua jet terdapat katup-katup otomatis yang akan terbuka jika pesawat akan melakukan dorongan balik berlawanan dengan lajunya.
Katup ini menghalangi udara yang disemburkan baling-baling pesawat untuk memantulkan udaranya ke depan (dari yang seharusnya ke belakang jika tanpa katup). Dengan kata lain, jet menutup saluran semburan ke belakang pesawat sehingga pesawat mendapat dorongan yang berlawanan dengan arah lajunya.
4.Wheel Brake
http://mokamadsaefullah.blogspot.com

Pesawat Berguncang di Udara

Salah satu scene dalam film Habibie dan Ainun, “Pesawat berguncang itu justru bagus karena tidak ada keretakan | Kalau ada yang retak? | Langsung jatuh” lalu Habibie tersenyum dan Ainun lalu menyadari sedang “dikerjain”. Ucapan Habibie muda tersebut hanyalah kalimat logika, bukan hubungan sebab akibat langsung. Bukan berarti tidak adanya keretakan adalah penyebab pesawat berguncang. Namun pesawat berguncang karena kondisi udara di atmosfer yang tidak merata. Hal ini seperti di jalanan aspal yang seringkali ada gelombang-gelombang kecil pasti mobil yang kita kendarai akan sedikit “berguncang”. Ditambah juga getaran mesin ataupun system-system lainnya. Apalagi pada pesawat yang terbang sekitar 700-800 km/jam, tentu getaran itu pasti ada.
Kalau naik pesawat dan bisa melihat bagian sayap lewat jendela, akan terlihat sayap yang bergetar ke atas ke bawah. Tanpa perlu melihat, saat duduk pun getaran itu juga terasa. Kondisi udara di atmosfer tidaklah merata. Apalagi jika cuaca sedang tidak baik. Kumpulan-kumpulan udara di atmosfer bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Pesawat melewati daerah-daerah tersebut dengan kecepatan tinggi tentu saja getaran pesawat akan sangat terasa. Selain getaran, terkadang kita merasakan pesawat seperti mau jatuh ke bawah karena kita merasakan gaya gravitasi pada tubuh tiba-tiba berkurang padahal pesawat terbang stasioner. Hal itu pun terjadi jika misalnya melewati awan comulus dan ada pusaran udara berbentuk ring sehingga mendorong pesawat ke bawah tiba-tiba. Rasanya seperti turun lift secara tiba-tiba. Tapi apapun itu, hal tersebut merupakan hal-hal wajar yang terjadi selama penerbangan. Dan para engineer pesawat terbang tentunya telah memperhitungkan banyak hal dalam merancang pesawat termasuk dalam menghadapi hal-hal seperti ini. Struktur dibuat seringan mungkin namun kekuatannya tetap diperhitungkan sesuai kebutuhan sehingga pesawat tetap bisa terbang dengan aman.
Sumber : http://akbar08.wordpress.com

Turbulensi Pesawat

turbulensi pesawatSAAT berada di udara, tak jarang pesawat mengalami sedikit guncangan atau biasa disebut turbulence. Terkadang, guncangan begitu keras sehingga membuat penumpang panik. Sebelum panik, ada baiknya penyebab turbulence di pesawat.
Menurut pilot komersial Amerika Serikat, Dan Levin, terjadinya guncangan bukanlah karena pesawat rusak, melainkan adanya arus udara di atas langit. "Seperti air, udara juga memiliki arus. Arus udara biasanya lebih kencang di atas area pegunungan," katanya, seperti dikutip Huffingtonpost, Jumat (1/2/2013).
Selain itu, kadang arus udara di langit berbenturan satu sama lain, dan menyebabkan guncangan di pesawat. "Terutama bila terjadi badai ataupun keadaan cuaca lainnya," tutur Levin. Adanya pergerakan awan juga menyebabkan turbulence dalam pesawat. Terutama bila awannya adalah jenis awan cumulus, yang tampak seperti kapas tebal.
Saat terjadi turbulence, pesawat biasanya akan sedikit 'terlempar' hingga beberapa ratus kaki. Inipun bila guncangan yang terjadi akibat badai besar ataupun berada di udara di atas pegunungan yang tinggi.
Setiap pesawat memiliki alat untuk mendeteksi adanya guncangan yang disebut AIRMET. Dengan ini, pilot akan dibantu untuk menghindari atau setidaknya meminimalisir penyebab guncangan.
Guncangan dalam pesawat biasanya tidak berbahaya, namun inilah sebabnya penumpang diminta untuk selalu mengenakan sabuk pengaman. Jadi bila terjadi guncangan, mereka tidak akan cedera ataupun terbentur.
Berikut ini tiga tipe turbulensi pada pesawat terbang seperti yang dikutip dari laman Popular Mechanics:
1. Turbulensi Selama Badai
Pola cuaca konvektif atau badai menurut pilot dan ahli meteorologi merupakan satu-satunya turbulensi yang dapat dilihat. Arus naik dan turun yang kuat di pusat badai dapat mendorong pesawat ke atas atau turun sebanyak 6.000 kaki.
"Anda tidak bisa melalui mereka. Anda harus menjauh dari badai," ujar Rob Bendall selaku Kepala Pilot maskapai Virgin America.
Turbulensi terburuk terjadi di tengah badai, biasanya antara 12.000 sampai 20.000 kaki. Badai dan turbulensi dapat meningkat setinggi 50.000 kaki, jauh di atas batas tertinggi pesawat yakni antara 30.000 sampai 40.000 kaki. Prakiraan cuaca, radar, dan laporan terkini dari bandara dan pesawat lain dapat membantu pilot mengarahkan pesawat dengan jelas pada cuaca terburuk.
Cuaca buruk bukanlah unsur paling berbahaya dalam penerbangan yang melewati badai. Bencana ini mendatangkan bahaya lain, seperti petir dan hujan batu es yang dapat memecah jendela kokpit atau merusak mesin.
2. Turbulensi di Gunung
Saat angin kencang bertiup mengarah ke pegunungan, udara mengalir dari puncak gunung menghasilkan turbulensi dalam bentuk gelombang saat mencapai sisi lain gunung. Proses ini sama seperti gelombang laut yang memecah pada sisi karang yang terendam.
Turbulensi ini tidak dapat terlihat jelas. Pilot dapat mengantisipasi "gelombang gunung" saat mereka terbang di atas gunung. Para pilot seharusnya sudah paham dengan potensi bahaya ini. Saat kondisi pesawat aman dari gelombang gunung, ada peringatan lain yakni "gelombang awan" lenticular.
3. Turbulensi Tak Terduga
Jenis paling berbahaya dari turbulensi yakni Clear Air Turbulence (CAT). Turbulensi ini tidak terlihat dan datang tanpa diduga. Ancaman ini bisa menimpa kapan saja selama penerbangan.
Salah satu penyebab utama CAT yakni batas antara aliran jet dan gerakan udara yang lambat berdekatan dengan pesawat. Batas tidak terlihat ini memberikan kejutan. Ancaman terberat mengarah pada penumpang yang melepas sabuk pengaman saat pesawat melintasi area ini.
"Jika anda terbang di udara yang terlihat jelas, Anda tidak akan mengindikasi masalah ini sama sekali," ujar Bendall.
Jika pesawat telah melewati daerah depan pesawat Anda, pilot mungkin akan menerima peringatan sebelum turbulensi terjadi.
"Saya tidak berpikir pesawat terbang pernah pecah dalam penerbangan karena turbulensi," ujar Bendall. "Pesawat didesain mengatasi kejadian turbulensi yang parah," dia melanjutkan.
Tanggungjawab terhadap penumpang merupakan kunci untuk keselamatan saat pesawat terkena turbulensi, khususnya turbulensi yang datang tanpa diduga. Itu berarti pasanglah sabuk pengaman Anda, sama seperti himbauan pilot dan pramugari pada kapan saja Anda sedang duduk.
Bendall menyarankan wisatawan yang melancong dengan pesawat untuk tidak hanya melakukan itu saja. "Hal terbaik dilakukan yaitu jangan berkeliaran di lorong pesawat," katanya.
"Lakukan apa yang perlu Anda lakukan. Kemudian, kembali ke tempat duduk dan kenakan sabuk pengaman. Ketika Anda masih terbang di udara dengan 500 mil per jam, sesuatu bisa terjadi," ujarnya.
Sumber : http://www.ripiu.info